Senin, 16 September 2013

BERHATI-HATILAH DALAM MASALAH IBADAH BAGIAN KE 2 !!!!!!!!!!

Cintailah Allah di atas segala-galanya. Segala bentuk cinta  yang diberikan kepada selain Allah adalah zalim. Dan segala bentuk pengagungan atau pemujaan di luar tuntunan agama Islam adalah suatu perbuatan yang sia-sia. Artinya perbuatan itu tidak akan diterima oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah swt di dalam Q.S At Taubah 9 : 24 yang berbunyi sebagai berikut

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ [٩:٢٤]

Yang artinya berbunyi sebagai berikut , " Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." 

Dari ayat di atas jelaslah sudah bahwa siapapun yang mencintai segala sesuatu melebihi cintanya kepada Allah maka : 

1. Allah tidak akan memberi petunjuk kepadanya, artinya dia hidup di dalam kesesatan yang nyata, walaupun memiliki harta benda yang berlimpah, atau menduduki jabatan penting, atau berpangkat tinggi, atau seorang ulama sekalipun.

2. Mengapa kami sampaikan tentang masalah ulama. Sungguh sangatlah tipisnya perbedaan antara yang benar dan yang salah, lebih tipis dari kulit ari bawang putih. Allah hanya melihat hati manusia apakah manusia beribadah kepadanya itu didasari keikhlasan hany untuknya atau masih dicapur adukkan dengan keperluan pribadi atau golongan.

3. Kalau kedua poin itu terjadi pada diri kita, maka kita akan termasuk kepada golongan orang-orang fasik.

4. Kita tidak boleh menyalahkan atau menghakimi siapapun dalam hal ibadah, karena yang menilai baik buruknya seseorang beribadah itu hanya Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar